Beranda
Peringkat
Tanya Jawab
Artikel
Video
Toko
Panen
Survey
Informasi SMS
Informasi Cuaca
Informasi Harga
Informasi Pupuk
Masuk
Ubah Bahasa

Apa itu DDT dan Dampaknya Bagi Pertanian?

DDT (Dichloro Diphenyl Trichlorethane) adalah insektisida ‘tempo dulu’ yang pernah disanjung ‘setinggi langit’ karena jasa-jasanya dalam mengendalikan berbagai penyakit yang ditularkan oleh vektor serangga hama. Namun, di balik keberhasilannya tersebut, penggunaan pestisida jenis ini ternyata banyak menimbulkan kontroversi.

Penggunaan DDT ini sudah mulai ketika terjadi perang dunia ke-I di Amerika Serikat untuk mengusir nyamuk penyebab malaria dan kutu yang saat itu mewabah. Awalnya, penggunaan DDT ini memang dapat menurunkan serangan dari kedua jenis hama tersebut secara signifikan. Namun ternyata, beberapa saat setelah dilakukan pengendalian muncul kontroversi dari penggunaan DDT itu sendiri, terutama karena bahaya yang terdapat di dalamnya.

Pada serangga memang beberapa jenis akan mati, namun ada beberapa serangga yang mampu bertahan pada zat DDT ini yang akan menyebabkan mutasi gen dimana serangga ini menjadi tahan terhadap DDT.

Dari hasil uji coba yang pernah dilakukan, DDT merupakan racun insektisida yang cukup ampuh. Ini terlihat dari hasil sampel penelitian menggunakan tikus yang sudah diberikan zat DDT sebesar 113 mg/kg yang mana tikus tersebut mati secara spontan karena zat DDT langsung menyerang dan membakar organ dalam tubuh tikus tersebut.

Dichloro Diphenyl Trichloroethane adalah insektisida paling ampuh yang pernah ditemukan dan digunakan manusia dalam membunuh serangga, tetapi juga paling berbahaya bagi manusia, sehingga dijuluki “The Most Famous and Infamous Insecticide”.

Setidaknya terdapat dua sifat buruk yang membuat DDT ini menjadi sangat berbahaya bagi lingkungan hidup. Pertama, DDT memiliki sifat apolar, dimana zat ini tidak bisa larut namun sangatlah larut dalam lemak. Jadi semakin larut suatu senyawa dalam lemak maka akan semakin tinggi sifat apolarnya dan hal inilah yang membuat DDT menjadi sangat mudah menembus kulit.

Kedua, sifat DDT yang sangat stabil dan persisten. Hal ini berarti DDT tidak bisa larut dan hilang begitu saja jika sudah dilepaskan di lingkungan, sebaliknya justru akan bertahan dan dapat masuk ke dalam rantai makanan. Hal ini membuat DDT akan bertahan lama di dalam tanah dan bahan organik lainnya.


Jadi, misalnya petani menggunakan zat DDT ini untuk mengusir serangga maka mungkin saja zat DDT akan masuk ke dalam tanah dan ikut masuk ke dalam padi. Jika padi dikonsumsi mengandung zat DDT maka dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit kepada yang mengkonsumsinya terutama pada jenis penyakit kanker dan kelainan jenis-jenis penyakit saraf.

Efek lainnya di bidang pertanian adalah munculnya hama dan patogen yang tahan terhadap pestisida, munculnya hama baru, terjadinya peningkatan populasi hama dan patogen sekunder, berkurangnya populasi serangga yang bermanfaat, keracunan terhadap ternak dan manusia, residu bahan kimia dalam tanah dan tanaman, serta kerusakan tanaman.

Sebenarnya, bukan saja DDT yang memiliki daya racun serta persistensi yang demikian lamanya dapat bertahan di lingkungan hidup. Racun-racun POP lainnya yang juga perlu diwaspadai karena mungkin saja terdapat di tanah, udara maupun perairan di sekitar kita adalah aldrin, chlordane, dieldrin, endrin, heptachlor, mirex, toxaphene, hexachlorobenzene, PCB (polychlorinated biphenyls), dioxins dan furans.

Selanjutnya untuk memahami dampak pestisida yang lebih lengkapnya bisa dibaca pada “Dampak Penggunaan Pestisida Kimia yang Berlebihan”.


Referensi:

academia.edu

halosehat.com

abrar4lesson4tutorial4ever.wordpress.com

Kategori
                   

Triyani
30 May 2019
lho ddt kan sdh dilarang jaman bahola karena dampat negatif nya ,
Nur Annisa
31 May 2019
Sipp info lisa
Andi effendi
02 Jun 2019
mantappp infonya..ddt udh dilarang sejak lama..dri ddt lah asal mula nnti tercetusnya revolusi hijau..imbasnya ke indonesia jg lho
Hendra
02 Jun 2019
mengerikan
Ketut weda
03 Jun 2019
thank Lisa .informasi untuk mengingatkan kita semua bahwa DDT begitu berbahaya.
Ig.Trisharyanto.
06 Jun 2019
info. sangat bagus..sbg referensi bahaya penggunaan bahan kimia..yg lainnya.
Defi Andriyani
11 Jun 2019
siip Lisa.. sudah kembali diingatkan lagiii.. mari perlahan mulai memanfaatkan bahan bahan yang ramah lingkungan saja hehe
Andi effendi
11 Jun 2019
minal aidzin wal faidzin mba defi..mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏
Defi Andriyani
11 Jun 2019
mohon maaf lahir dan batin juga yaa pak Andi...
oka suyadnya
23 Jun 2019
beralihlah dengan pertanian ekologi yang indah,Petani yang muda muda mestinya mengawali.
Ali Bahari
27 Jun 2019
jika kita mengetahui sifat paruh pestisida.. kita bisa mengatur lamanya umur pestisida.. mpe berbulan2 disemprot masih ampuh.. pestisida apapun
Silahkan login untuk memberikan komentar atau SMS dengan mengetik PETANI(spasi)*141531(spasi)(KOMENTAR) kirim ke 2000 (telkomsel, xl dan indosat) atau ke 081802002580 (operator lain)